The Blame Game

Suatu ketika saya sangat marah pada rekan kerja di kantor. Penyebabnya satu yakni menyalahkan saya atas apa yang terjadi padahal hal tersebut bukan saya yang melakukan.

Kondisi yang saya alami mungkin juga Anda pernah rasakan. Anda menjadi subjek yang membuat kesalahan dan semua mata tertuju pada anda. Terlebih jika jari telunjuk mengarah pada anda. Sungguh tidak enak bukan berada dalam kondisi tersebut ?

Jika hal ini terus terjadi dan seringkali menjadi momok dalam komunikasi di organisasi Anda, berhati-hatilah bahwa anda terjebak di dalam sebuah permainan “The Blame Game”.

Permainan The Blame Game ini bukanlah sesuatu yang positif, tetapi ini merupakan budaya buruk dimana sering terjadi kondisi saling menyalahkan dengan fokus pada individu atau kelompok tertentu di saat ada kondisi yang tidak ideal sedang terjadi. Alih-alih fokus pada inti permasalahan.

The Blame Game sangat sering dimainkan oleh orang-orang yang memiliki pribadi yang kerdil, tidak bertanggung jawab, dan ingin menang sendiri. Anda bisa melihat kondisi di organisasi anda, apakah ada pemain dari The Blame Game ini?

Don’t ask “who?”

Hal paling mudah untuk mengidentifikasi The Blame Game dalam komunikasi organisasi adalah dengan melihat di saat kondisi tidak ideal. Saat kondisi tidak ideal, apakah anggota dari organisasi sibuk mencari solusi dari permasalahan atau sibuk mencari siapa pelaku yang menyebabkan kondisi tidak ideal tersebut terjadi. Jika sebagian besar anggota organisasi sibuk mencari siapa dan siapa, maka Anda harus berhati-hati.

Saling menyalahkan adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan. Pihak customer menyalahkan sales atau front line, front line menyalahkan manager, manager menyalahkan direktur, dan direktur menyalahkan presiden direktur. Bisa anda bayangkan betapa tidak enaknya barada di dalam kondisi tersebut.

Blamming pada akhirnya tidak akan berdampak positif, justru dampak negatiflah yang terjadi. Budaya blaming dalam organisasi akan menciptakan pribadi yang ketakutan untuk berpendapat, menghancurkan kreativitas individu dan lebih buruknya akan terbangun tembok yang penuh dengan rasa tidak percaya.

Fokus pada pertanyaan

Langkah awal untuk menghentikan The Blame Game di organisasi adalah dengan mengganti pertanyaan dengan fokus pada “APA”, bukan “SIAPA”.

Misalkan ada kondisi target penjualan yang tidak tercapai. Beberapa pertanyaan berikut akan bisa membantu kita dengan sangat baik tanpa terjadinya The Blame Game, pertanyaan tersebut diganti dengan:

  1. Apa yang bisa saya lakukan hari ini untuk membantu perusahaan mencapai target penjualan ?
  2. Apa yang bisa saya bantu untuk atasan saya agar ia bisa mendapatkan strategi penjualan yang jitu?
  3. Hal apa yang bisa saya lakukan agar konsumen mau membeli produk saya?

Dengan merubah pertanyaan dari SIAPA ke APA, secara langsung kita akan fokus pada pemecahan masalah serta solusinya. Sangat berbeda jika kita hanya fokus pada SIAPA. Ini akan menghabiskan energi tanpa ada hasil yang nyata.

Semoga tulisan ini membantu anda mengingat kembali bahwa “The Blame Game” adalah penghancur harmonisasi komunikasi di organisasi. Maka berhati-hatilah dengan The Blame Game. Jangan sampai anda menjadi pelaku utama atau korban utama.

Terima kasih. Sukses selalu untuk anda.

Tinggalkan komentar