Pernah kah Anda bertemu dengan seseorang yang terlalu banyak bicara ? Apa yang Anda rasakan? Apakah Anda merasa nyaman atau Anda menjadi enggan untuk meneruskan berkomunikasi dengan orang tersebut?
Berbicara terlalu banyak atau mendominasi percakapan merupakan kondisi dimana seseorang cenderung untuk menumpahkan apa yang ia ketahui dengan sebanyak-banyaknya tanpa peduli dengan apa yang dirasakan oleh lawan bicaranya. Jika ini terus dilakukan, komunikasi efektif tidak bisa tercapai.
Kita perlu memahami, bahwa pada dasarnya setiap manusia ingin didengarkan. Ego manusia adalah ingin menyampaikan apa yang ia ketahui kepada orang lain. Akan tetapi, kondisi ini sangat berbeda jika kita menjadi seorang pendengar dalam sebuah situasi komunikasi.
“People dont care how much do you know, until they know how much do you care about their needs / priorities”
Kita perlu ingat kembali bahwa ada empat macam bentuk komunikasi, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Ternyata persentase terbesar adalah mendengarkan (45%), berbicara (30%), membaca (16%) dan menulis (9%).
Jelas bahwa dalam suatu komunikasi, kemampuan mendengar menjadi hal yang sangat penting umtuk dimiliki. Kemampuan mendengar ini adalah kunci untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan atau dibutuhkan oleh lawan bicara kita.
Untuk mencegah kita terlalu banyak bicara bisa diterapkan apa yang disebut active listening. Ini adalah teknik mendengarkan yang akan membuat komunikasi bisa berjalan dua arah.
Dalam dunia penjualan atau pelayanan, active listerning bisa membuat konsumen merasa senang karena mereka diberikan kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan, didengarkan, dan dimengerti. Bagi pemberi pesan active listening bisa menangkap sinyal-sinyal kebutuhan dan mengubahnya menjadi komitment yang diinginkan.
Menurut penelitian Proter Henry and Co, proses active listening dibagi menjadi 3 tingkatan yakni:
1. Listen to Hear (Mendengar untuk mendengarkan)
Ini tingkatan paling rendah, yakni dengan menghilangkan ganggung fisik dan gangguan mental saat komunikasi berlangsung. Kita harus fokus secara sadar memberitahu diri kita untuk mendengarkan kata-kata dan gerak tubuh dari lawan bicara.
Dalam bahasa Mandarin, kata mendengarkan ditulis dengan huruf ting artinya menaruh daun telinga kita seperti kita mendendengarkan titah raja, penuh perhatian dan tatapan mata fokus.
2. Listen to Understand (Mendengarkan untuk Memahami)
Ini artinya kita mendengarkan, tetapi juga aktif memilah dan memahami maksud dari lawan bicara kita. Dari pesan yang disampaikan, biasanya terdapat tiga kompenen yaitu: poin utama, poin pendukung dan informasi tambahan yang tidak berhubungan. Perhatikan komponen tersebut agar kita tidak salah paham. Jika kita gagal memahami, maka akan timbul mispersepsi.
3. Listen to Communicate Understanding (Mendengarkan untuk mengkomunikasikan pemahaman)
Ini level tertinggi dari aktif mendengarkan. Biasanya komunikator yang handal melakuan hal ini. Tiga hal yang mereka lakukan agar tercapainya komunikasi efektif:
a. Empati
Turut merasakan apa yang dirasakan oleh lawan bicara kita. Empati ini merupakan dimensi kecerdasan emotional.
b. Summarising (meringkaskan)
Membantu meringkaskan poin-poin utama dan pendukung dari apa yang disampaikan lawan bicara kita. Terkadang tidak semua lawan bicara kita memahami pesan yang mereka sampaikan.
c. Para-phrase (para frase)
Proses menyampaikan kembali sebuah maksud dengan bahasa yang kita buat sendiri secara ringkas dan efektif serta tidak mengulangi (repeating) dari apa yang sudah diucapkan oleh lawan bicara kita merupakan level tertinggi. Atensi dan kecerdasan Anda akan terlihat saat membuat para phrase.
Itulah 3 jenis active listening yang bisa Anda pahami. Semoga bisa menjadi referensi Anda dalam meningkatkan proses komunikasi efektif.