Pernahkah Anda merasakan situasi yang tidak menyenangkan saat dilayani oleh suatu organisasi? Suatu Situasi yang tidak harmoni yang membuat Anda diping-pong ke bagian-bagian lain berulang kali.
Atau Anda pernah mengalami proses pengurusan administrasi yang mengecewakan dimana bukan kecepatan yang Anda dapatkan, tetapi keribetan? Bisa jadi Anda kesal, bete, atau merasa gerah dengan situasi tersebut. Penting untuk Anda ketahui itu adalah tanda bahwa organisasi tersebut sedang mengalami kondisi Silo.
Secara harfiah, silo bagaikan cerobong asap. Saat kita berada dalam cerobong asap, maka sulit bagi kita untuk melihat dengan jelas. Dalam komunikasi organisasi, silo merupakan mentalitas yang tidak peduli dengan bagian lain atau tutup mata dengan kejadian atau peristiwa di luar tempat seseorang berada. Padahal kondisi tersebut berdampak buruk bagi performance bisnis bahkan berdampak pada kepuasan konsumen.
Lihat Gejala Silo dan Dampaknya
Gejala silo bisa Anda lihat di organisasi di tempat Anda berada. Beberapa pertanyaan berikut ini bisa membantu Anda untuk mengidentifikasi silo, yaitu:
- Apakah antar bagian di organisasi Anda tidak peduli pada kepentingan yang lebih luas?
- Apakah antar bagian tidak saling mendukung terhadap suatu project lintas bagian?
- Apakah antar bagian sudah tidak transparan atau cenderung saling menjatuhkan ?
Jika tiga pertanyaan di atas jawabannya Iya, maka bisa diindikasikan bahwa organisasi Anda terkena gejala Silo.
Gejala Silo di organisasi akan berdampak langsung pada masing-masing individu. Setiap individu akan merasa apatis, enggan untuk melakukan lebih, serta yang lebih jauh individu di organisasi enggan untuk berkontribusi di luar bagian atau job desc yang dimiliki. Akumulasi silo ini akan berdampak pada operational bisnis, performance bisnis, dan rendahnya kepuasan konsumen. Pada akhirnya akan mempengaruhi kepercayaan dan krediblitas dari organisasi tersebut.
Pelanggan yang merasakan suatu organisasi silo bisa jadi merasakan ketidaknyamanan. Sudah dipastikan tidak ada kemudahan, kecepatan, dan kehandalan dalam pelayanan. Padahal hal-hal tersebut adalah kunci untuk bisa memenangkan persaingan bisnis di era sangat kompetitif ini.
Solusi yang bisa ditawarkan
Lalu apa yang bisa dilakukan oleh organisasi untuk mengantisipasi dan mengatasi kondisi silo? Langkah awal harus dimulai dari sisi Leadership. Pemimpin di jabatan tertinggi harus mampu memberikan perhatian penuh akan semangat kesatuan untuk mencapai visi dan misi organisasi. Perhatian yang penuh ini pun juga ditunjukkan dengan keberpihakan yang adil ke seluruh bagian. Jika ini dilakukan, maka spirit kebersamaan akan pelan-pelan akan tumbuh dan berkembang.
Selain itu, organisasi bisa menerapkan program harmonisasi organisasi dengan cara mengadakan project kolaborasi antar bagian, rotasi berkala antar individu, dan memperbanyak aktivitas-aktivitas non formal untuk membangun komunikasi dan kedekatan. Hal ini perlu waktu, tetapi hal ini cukup fundamental untuk memperkokoh semangat kolaborasi dan kebersamaan.
Pada akhirnya, komunikasi antar individu di dalam organisasi penting untuk menjadi perhatian, terlebih saat ini komunikasi tatap muka semakin tereduksi dengan komunikasi online. Gejala silo harus bisa dideteksi dengan cepat oleh masing-masing pemangku kepentingan agar ini tidak menjadi bom waktu di waktu mendatang. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk komunikasi organisasi yang lebih baik.