Sejatinya kehidupan ini seperti mengukir di atas cermin. Cermin tidak akan pernah bohong atau berkata palsu. Ia pasti menampilkan apa yang ada dihadapannya secara langsung. Tanpa cela, tanpa kurang.
Setiap manusia memiliki kesempatan sama untuk menentukan apa yang ingin ditampilkan oleh cermin kehidupannya. Apakah hal baik atau hal buruk.
Dalam konteks lebih luas, apa yang diucapkan, diperbuat, dan dituliskan adalah cerminan dari apa yang selama ini sudah kita lalui. Tidak sulit untuk menilai seseorang, lihat saja bagaimana dan apa yang diucapkan atau lebih jauh seperti apa perilakunya. Pasti dengan mudah dilihat bagaimana sosok seseorang tersebut.
Dalam Teori Komunikasi, ada salah satu teori yang bernama Teori Dramaturgi. Singkatnya teori ini mengatakan bahwa setiap orang memiliki topeng dan selalu menggunakannya dalam memainkan peran di panggung kehidupan. Orang-orang akan berganti topeng sesuai dengan jenis pertunjukan yang sedang dilakoni.
Cermin kehidupan pun bisa juga seperti sebuah teko yang mengeluarkan isinya secara apa adanya. Jika isinya kopi, tidak mungkin teko tersebut akan mengeluarkan susu. Jika teko itu berisi teh, tidak mungkin juga akan mengeluarkan jus. Persis seperti cermin yang akan selalu menyajikan apa yang dipantulkannya.
Bahkan lebih jauh dengan cermin kehidupan ini bisa menjadi prediksi bagaimana satu manusia mengakhiri hidupnya. Jika selama hidup dipenuhi kebaikan, maka Insya Allah akhir hayatnya ditutup dengan kebaikan.
Untuk itu, teruslah membersihkan cermin diri dalam kehidupan ini. Memang tidak akan selalu bersih, tetapi ketika kita sadar untuk terus konsisten membersihkannya. Maka, cermin dengan sangat jujur akan menampilkan itu semua tanpa ada yang dikurangi. Semoga bermanfaat. Salam semangat dan teruslah bertumbuh.