
Delapan belas tahun lalu, tepatnya 11-12 April 2002, beberapa eksekutif top dunia mengadakan pertemuan yang diinisiasi oleh Harvad Business School. Mereka melakukan diskusi dengan intens demi mendapatkan sebuah jawaban, yakni “Apakah spritualitas bisa membawa seseorang kepada sukses?”
Belasan tahun pertanyaan itu telah terjawab dan kini jawaban ini semakin nyata dan dibutuhkan di saat seluruh manusia di berbagai belahan dunia bersama-sama berjuang menghadapi virus Covid 19. Bertepatan pula dengan ibadah puasa Ramadan sebagai aktivitas spritual umat muslim di seluruh dunia.
Perekonomian dunia mengalami goncangan hebat, pertumbuhan minus, gelombang pemutusan hubungan kerja semakin bertambah, dan banyak ahli ekonomi memprediksikan dunia bisa masuk zona resesi jika tidak tepat dalam menangani Covid 19. Dengan kondisi seperti ini, apa yang menjadi pegangan setiap individu untuk bertahan. Jawabannya adalah spritualitas terbaik.
Kita kembali ke forum diskusi HBS. Mereka akhirnya menyimpulkan bahwa spritualitas bisa membawa kepada kesuksesan. Hal itu disebabkan spritualitas menghasilkan lima hal yaitu: integritas atau kejujuran; energi atau semangat; inspirasi/ide dan inisiatif; wisdom atau kebijaksanaan; serta keberanian dalam mengambil keputusan.
Gelombang Kesulitan
Kondisi saat ini laiknya gelombang lautan yang menghasilkan hempasan ombak besar dan kuat dibibir pantai. Bagi mereka yang tidak mengerti dan memahami dengan baik pasti menjadi korban dan bingung dalam menghadapi gelombang tersebut. Akan tetapi, tidak bagi peselancar. Kita perlu mengambil pelajaran dari peselancar dengan cepat dan tepat. Peselancar akan mampu bertahan di atas ombak besar dan melewatinya dengan segala keindahan liukannya.
Kesulitan saat ini harus dihadapi dengan kemampuan seperti seorang peselancar. Untuk memulainya mulailah dari sisi spritualitas.
Pada dasarnya manusia itu lemah, muda putus asa, dan cenderung gegabah dalam menyikapi banyak hal. Peran spritualitas di sini tidak melulu soal agama walaupun agama jadi kunci. Akan tetapi, spritualitas yang mengutamakan potensi hakiki manusia yang secara umum telah dimiliki oleh manusia. Potensi itu meliputi kejujuran, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerja sama, adil dan peduli, Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya Spritual Company menyebutanya sebagai 7 Budi Utama. Potensi inilah yang harus ditumbuhkan, dipertahankan, dan diperkuat dengan adanya kondisi sulit seperti sekarang ini.
Bagaimana Implementasinya?
Sebelum Covid 19 ini terjadi banyak perusahaan atau pribadi yang menunjukkan bahwa spritualitas harus ada dalam setiap gerak gerik entitas individu dan bisnis.
Bisnis otomotif legendaris Honda misalkan yang telah menerapkan spritualitas dalam perjalanan bisnisnya. Merangkak dari bawah, melewati tantangan demi tantangan. Filosofi pendirinya Soichiro Honda yakni menekankan visi korporat untuk menghormati Individu dan Tiga Kebahagiaan. Menghormati individu berarti yakin akan kemampuan unik manusia dan ini menentukan hubungan perusahaan dan rekanan. Sedangkan Tiga Kebahagiaan, Honda meyakini bahwa setiap orang yang terlibat dalam proses pembelian, penjualan dan penciptaan produk harus mendapatkan perasaan bahagia.
Raksasa Samsung dari Korea juga sama dalam menjunjung tinggi spritualitas. Itu diwujudkan dengan menekankan inovasi sebagai nyawa perusahaan. Artinya jika satu titik sudah tercapai, itu menjadi titik mulai untuk perjalanan berikutnya. Konon orang Samsung diibaratkan seperti kamu Nomad yang terus berkelana mencari temuan-temun baru.
Spritualitas Harus Kita Libatkan
Perjalanan kehidupan ke depan bisa terasa berat atau ringan bergantung kepada masing-masing Anda. Peran spritulitas harus semakin besar dalam memenangkan segala pertarungan saat ini. Kita tidak bisa hanya mengandalkan intuisi, kesuksesan masa lampau, dan keegoisan pribadi untuk memenangkan kondisi.
Mari kita lihat lagi spritulitas itu: integritas atau kejujuran; energi atau semangat; inspirasi/ide dan inisiatif; wisdom atau kebijaksanaan; serta keberanian dalam mengambil keputusan.
Bukankah itu semua yang kita butuhkan saat ini?