
Corona Virus Desease 19 benar-benar telah menjadi pukulan telak ke berbagai sendi kehidupan. Pukulan kuat menghantam sebagian besar negara di seluruh dunia. Sebagian besar sendi kehidupan masyarakat terdampak. Banyak perusahaan berhenti beroperasi. Pemutusan hubungan kerja tidak dapat dihindarkan. Rakyat miskin banyak jadi korban terlepas dari statistik korban Covid 19 yang terus meningkat.
Dalam konteks organisasi korporasi, baik korporasi milik negara atau swasta merasakan dengan kuat bahwa badai Covid 19 ini adalah suatu disrupsi yang sangat luar biasa kuat. Sebelum era covid 19, era disrupsi telah terjadi saat semua digital company hadir dan mengubah landscape kehidupan secara cepat. Lihatlah perubahan yang telah terjadi. Banyak yang menyebut disrupsi teknologi ini sebagai eranya Uber (Perusahaan taksi tanpa armada dari Amerika Serikat).
Digital Disruption
Dalam peradaban Uber, teknologi digital dan internet berpengaruh besar dalam merubah tatanan kehidupan. Di Indonesia, kehadiran Gojek, Grab, Traveloka, Tiket.com, Tokopedia, Bukalapak dan masih banyak lagi start up (begitu sebutannya untuk perusahaan digital) mengubah bagaimana perilaku kehidupan berubah. Kita tidak perlu pusing mencari ojek jika hendak berpergian, memesan makanan, mencari barang dengan harga murah dan berpergian ke mana pun kita suka.
Dalam konsep disrupsi di era digital, istilah VUCA telah menjadi makanan sehari-hari bagi incumbent (perusahaan konvensional pemegang market share). Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity jadi wacana dan terus dibahas di dalam organisasi. Namun, masih banyak korporasi yang tetap bergeming serta masih mengandalkan cara-cara sukses di masa lalu. Beberapa organisasi pelan-pelan bertransformasi ke arah digital. Kolaborasi jadi salah satu pilihan.
Paksaan
Hal terbaik yang bisa membuat kita berubah adalah keterpaksaan. Bahkan yang sangat ekstrim, kita dituntu untuk berubah demi bertahan hidup. Kondisi inilah yang terjadi di era Covid 19. Sebagian besar organisasi yang terdampak Covid 19 harus memutar otak dengan cepat dan tepat untuk menemukan solusi terbaik. Demi bertahan hidup.
Saya menyebut hal ini sebagai Covid 19 Disruption. Disrupsi oleh virus ini berhasil mentransformasi banyak organisasi untuk semakin akrab dengan digital. Digital yang dulunya dianggap sebagai hal tidak prioritas, saat ini menjadi primadona. Semuanya serba digital.
Cepat Tapi Tidak Terburu-Buru
Disrupsi Covid menuntut banyak organisasi untuk berubah. Harus dalam waktu cepat dan tepat. Akan tetapi, tidak perlu terburu-buru. Saya menarik nafas panjang memikirkan masa di saat Covid ini berlalu. Akan begitu banyak perubahan yang terjadi. Orang-orang tidak akan sama lagi seperti dulu. The New New Normal. Manusia akan semakin secure, menjaga jarak, kritis dalam menghabiskan uang dan membutuhkan banyak kepastian akan kesehatan dan keamanan.
Peran individu dalam proses disrupsi di era covid jadi sangat signifikan. Perlu strategi yang tepat guna. Ibaratnya satu dayung dua pulau terlampaui. Masa covid adalah masa untuk bertahan dan masa untuk bersiap. Kondisi inilah yang menuntut kita untuk tidak harus terburu-buru. Akan tetapi, harus cepat.
Sekarang lihatlah diri Anda secara pribadi. Apa yang ingin Anda lakukan untuk diri Anda agar semakin baik di kemudian hari? Habit apa yang harus dibentuk. Bagi korporasi perusahaan bisa merenungi apakah strategi yang dulu telah disusun masih relevan? Apakah sudah memenuhi standar baru dari konsumen Anda? Begitu banyak hal yang perlu kita analisis dan pertimbangkan. Saatnya untuk berfikir ulang dan meresapi itu semua. Sekian.