
Perjalanan waktu terasa hampa di tahun 2020. Setelah dihantam banjir di awal tahun, Jakarta pada khususnya, Indonesia dan Dunia pada umumnya harus menghadapi kenyataan berat. Corona Virus Desease 2019 atau dikenal Covid 19. Anda bisa membaca banyak informasi di internet ini yang sudah mengulas tentang virus dari Wuhan, Cina.
Saat tulisan ini saya buat, Rabu (15/4) malam pukul 21.07 WIB, peneliti Harvard menginformasikan bahwa Social Distancing perlu sampai 2022. Saya menarik nafas panjang, sesuatu yang sulit akan semakin menantang bagi kita umat manusia. Satu perubahan besar telah terjadi dan tercatat kuat dalam sejarah umat manusia.
Kata demi kata meluncur ke tut keyboard laptop saya di saat di luar rumah begitu banyak kejadian. Angka positif pasien Covid 19 meningkat drastis, disusul angka kematian. Himbauan Work From Home belum terlalu efektif di saat gelombang PHK semakin jelas terlihat. Resesi ekonomi siap menjegal banyak negara. Indonesia? Sudah mencari hutang untuk menutup defisit anggaran.
The New Normal: Totally Different?
Apakah Covid 19 ini akan merubah kehidupan kita selamanya?
Banyak pihak yang bertanya, memprediksikan dan menebak bahwa kehidupan umat manusia akan berubah drastis setelah Covid 19 ini reda dan berlalu. Betapa tidak, saat ini sebagian besar manusia di dunia mengalami trauma psikis, minimal was-was atau waspada akan lingkungan dan orang sekitar. Bahkan suku terdalam di hutan Amazon tidak luput dari Covid 19.
Peran digital, internet, video conference, menjadi hal yang semakin tidak terpisahkan dalam kehidupan kita saat ini. Manusia yang kodratnya bersosialisasi harus menembus ruang dan waktu untuk tetap bersosialisasi. Ada positf dan negatifnya. Tetapi mau atau tidak itu semua harus dilakukan. Kehidupan baru nantinya tidak seperti yang dulu lagi. Kehidupan baru normal akan terbentuk. Lihatlah nanti setelah beberapa waktu berlalu, semua akan baru.
Kita Manusia Rapuh
Terlepas dari segala keangkuhan umat manusia, Covid 19 telah memberikan pelajaran yang sangat sangat mahal. Sebuah pesan pembelajaran yang menyatakan bahwa Manusia adalah makhluk yang rapuh, lemah dan tak berdaya di hadapan Allah SWT. Virus dengan ukuran 400-500 micro merusak kuat sendi kehidupan manusia. Dalam waktu singkat dan masif.
Introspeksi diri jadi kunci nyata untuk menerima keberadaan Covid 19. Lihatlah langit di kota-kota besar sudah berwarna biru, yang selama ini selalu ditutupi asap. Keluarga yang jarang berkumpul sekarang dipaksa untuk berkumpul di rumah. Masih banyak lagi manfaat dari pelajaran Covid 19 ini.
Covid 19, Sampai Kapan?
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan di atas. Bahkan para ahli pun melakukan banyak modeling untuk memprediksikan akhir dari Covid 19. Berita baiknya setiap individu bisa berkontribusi besar untuk mempercepat keberadaan Covid 19. Mudahnya, #stayathome dan ikuti himbauan dari pemerintah setempat.
Mari kita lihat kapan Covid 19 ini berakhir. Tetap jaga kesehatan dan keselamatan.