Kabut Komunikasi

“One of the biggest barriers to effective communication is being unable to describe how you really feel.”

Kalimat ini merupakan sebuah pesan utama yang didapatkan oleh CEO Microsoft, Satya Nadella dari buku Nonviolent Communication” by psychologist Marshall B. Rosenberg.

Mengapa pesan ini menarik? Ternyata kalimat tersebut menjadi pijakan Satya Nadella akan sebuah tujuan melakukan proses transformasi di organisasi Microsoft. Pada saat ia melakukan transformasi, para petinggi Microsoft diliputi permusuhan, pertengkaran dan politik internal satu sama lain.

Kondisi yang sama sudah lumrah terjadi di banyak organisasi apa pun bentuknya. Coba Anda perhatikan sekeliling Anda, apakah Anda sering menemukan pola komunikasi yang tidak jelas, membingungkan, dan terkadang yang memberi pesan pun seolah-olah tidak peduli akan pesan yang disampikan?

Apa yang terjadi ini disebut sebagai kabut komunikasi. Suatu yang lumrah secara psikologis bahwa manusia tidak langsung menyampaikan apa yang dirasakan atau dipikirkan. Salah satu alasannya adalah ketidaknyamanan atau budaya yang sudah mengakar kuat. Akibatnya pesan tersebut disampaikan, tetapi dibalut dengan kabut-kabut komunikasi. Inilah yang menyebabkan penerima pesan tidak bisa menerima dengan jelas. Dampaknya negatif, persepsi berbeda dan tujuan tidak tercapai.

Kabut komunikasi seringkali diterapkan dalam hubungan atasan-bawahan, pemilik-profesional, konsumen-penjual, bahkan dalam komunikasi di level keluarga pun kabut komunikasi ini seringkali terjadi.

Klarifikasi
Salah satu kunci utama agar kabut komunikasi ini bisa dihindari adalah dengan melakukan klarifikasi.

Hal yang paling mudah adalah mengulang kembali, mempertanyakan dengan detail, atau menggali lebih dalam maksud dari pemberi pesan yang berusaha memberikan kabut pada pesannya.

Pastikan setiap klarifikasi menghasilkan sesuatu yang jelas, detail dan disepakati oleh kedua belah pihak. Bahkan jika memungkinkan galilah emosi atau perasaan dari penyampai pesan. Terlebih besar peluang terjadi perbedaan makna antara komunikasi lisan dan perasaan yang sebenarnya dimiliki oleh pembero pesan. Disinilah peran klarifikasi juga penting.

Komunikasi Efektif
Tujuan menghilangkan kabut komunikasi sebenarnya hanya satu, yaitu komunikasi yang efektif. Dengan komunikasi efektif, hal-hal negatif yang menguras energi dan perasaan bisa terhindar.Selain itu, pekerjaan akan berjalan cepat, hasil lebih makasimal dan semua pihak bisa diuntungkan.

Bagi Anda yang sudah memahami kabut komunikasi mulailah untuk menerapkan komunikasi yang jelas, akurat dan terukur. Ini tentu menjadi tantangan karena ini sudah menjadi habit yang kuat terutama di budaya masyarakat Indonesia. Kalau bukan Anda siapa lagi?

Tinggalkan komentar