Start with Why

Kali ini saya ingin mengedepankan sebuah kalimat yang sangat powerful untuk direnungi yaitu Start With Why. Kalimat ini dicetuskan oleh Simon Sinek, penulis dan pembicara yang belakangan ini menjadi salah satu indirect mentor saya. Jika Anda ingin jauh mengenalinya, Anda bisa membaca salah satu bukunya berjudul Start With Why, How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action.

Pertanyaannya mengapa saya mengangkat topik ini ditulisan ini? Sebuah kesimpulan menarik dari observasi yang saya lakukan bahwa kepuasan pribadi sangat dipengaruhi dari seberapa besar tingkat kemampuan menjawab why (kenapa). Perlu diperhatikan bahwa why yang akan kita bahas berbeda dengan why yang biasa digunakan dalam metode problem solving (menemukan akar masalah). Di sini lebih mengarah kepada kemampuan kita dalam menemukan inti alasan akan kenapa suatu hal itu terjadi.

Salah satu observasi yang saya lakukan adalah melihat tingkat kepuasan seseorang akan posisi, pekerjaan atau jabatan yang dimilikinya. Banyak orang diberbagai posisi, jabatan atau pekerjaan secara langsung atau tidak langsung melontarkan segala unek-unek negatif yang ia rasakan di dalam pekerjaan. Kepahitan kehidupan, pekerjaan yang tidak menyenangkan, kebosanan, minim apreasiasi, pendapatan yang kecil, klien yang menuntut tinggi atau pimpinan yang tidak peduli pada bawahan, dan banyak lagi keluh kesah yang bermunculan.

Saya mencoba menggali lebih dalam, mencoba berbagai hipotesa, bertanya secara tidak langsung kepada orang-orang yang saya temui bahwa mengapa mereka tetap berada pada kondisi itu? Sebagian besar takluk pada keadaan. Ya mau gimana lagi, jalani aja deh.

Kondisi serupa pun pernah saya alami.  Akan tetapi, ketika saya menemukan Start With Why dan diperkuat lagi dengan kemampuan menemukan The Grand Why, sudut pandang saya berubah 180 derajat dalam memandang setiap peluang dan tantangan. Kehidupan berubah lebih baik, menyenangkan dan selalu ada hal-hal baru menghampiri diri.

Saatnya Bertanya Why

Lalu bagaimana cara menggunakan start with why? Mari kita lakukan lebih jauh. Kita ambil cara sederhana, yaitu dengan mengajukan pertanyaan kenapa (why) kepada setiap hal yang Anda lakukan.

Kenapa saya bekerja pada pekerjaan ini? Kenapa saya setiap hari berangkat ke tempat kerja walaupun kadang terpaksa? Kenapa saya memilih bagian ini dibanding bagian lain? Kenapa saya harus hidup di dunia ini? Terus kembangkan pertanyaan Anda hingga Anda bisa menemukan sebuah jawaban terbaik, terkuat , dan bisa merubah sudut pandang dalam melihat suatu hal.

Jawaban Anda bisa bermacam-macam. Misalnya: saya bekerja untuk mendapatkan uang. Saya bekerja untuk mengumpulkan modal untuk memulai usaha. Saya melakukan pekerjaan ini karena saya suka. Terus gali jawaban Anda. Semakin terus Anda menggali, semakin banyak lagi jawaban-jawaban yang akan muncul.

The Perfect One

Pola pikir start with why sangat powerfull mengubah sudut pandang dan pola pikir. Kita bisa pahami bersama, apa yang kita lakukan dan kita hasilkan dalam kehidupan ini bermula dari pikiran dan Anda telah mendapatkan why Anda secara baik. Selanjutnya apa yang harus dilakukan?

Dalam buku Start with Why karya Simon Sinek, pola pikir why akan menjadi sebuah kesempurnaan ketika itu dilengkapi dengan What (Apa) dan How (Bagaimana). Simon Sinek menyajikan dalam bentuk Golden Circle. Golden Circle ini menggambarkan bagaimana why menjadi inti sebuah lingkaran dan dilapisi how dan what untuk lapisan kedua dan ketiga.

Hasil dari pola pikir why yang tepat akan berujung pada pada aktivitas apa yang dipilih dan tindakan apa yang harus dilakukan untuk mewujudukannya.

Tiga Tukang Bangunan

Untuk memudahkan dalam memahami, mari kita lihat kisah tiga tukang bangunan yang sedang bekerja menyusun batu-bata.

Sebuah pertanyaan yang sama diberikan kepada tiga tukang bangunan tersebut.

“Apa yang Anda lakukan?”

Tukang bangunan pertama menjawab, “Saya sedang menyusun batu-bata,” ujarnya lesu.

Sedangkan tukang bangunan kedua menjawab,” Saya sedang membangun rumah,” jawabnya lantang.

Sekarang mari kita lihat jawaban dari tukang bangunan ketiga. Cukup mengejutkan dan disanalah kekuatan dari why akan mempengaruhi perilaku dalam bertindak.

“Saya sedang membangun peradaban,” ujar tukang bangunan ketiga dengan senyum merekah di wajahnya.

Apa yang ditunjukkan oleh ketiga tukang bangunan memberikan makna bahwa sebuah pekerjaan walaupun itu sama akan memberikan arti yang berbeda satu sama lain. Perbedaan itu timbul ketika pola pikir why mampu kita terapkan dengan tepat.

Sekarang saatnya bagi kita untuk terus menemukan why why yang lain dalam kehidupan kita. Selamat mencari.

Tinggalkan komentar