Kita mempunyai gedung yang semakin tinggi, Tapi kesabaran yang semakin rendah. Jalan yang semakin lebar, Tapi sudut pandang yang semakin sempit.
Semakin banyak membelanjakan, tapi semakin sedikit yang dimiliki. Semakin banyak membeli, tapi makin sedikit yang dinikmati.
Punya rumah yang semakin besar, tapi kehidupan rumah tangga yang semakin terpencil
Makin banyak tersedia kesenangan, tapi semakin sedikit waktu untuk menikmatinya
Makin banyak pengetahuan,tapi semakin sedikit kebijaksanaan. Makin banyak para ahli, tapi justru makin banyak pula masalah
Makin banyak obat,tapi juga semakin sedikit ketenangan.
Kita memiliki semakin banyak barang dan kepemilikan, tapi semakin berkurang nilainya
Kita makin banyak bicara, makin sedikit mencinta dan makin banyak membenci
Kita belajar untuk mencari nafkah penghidupan, tapi gagal menemukan kehidupan
Kita telah menambah lebih banyak tahun dalam kehidupan, tapi gagal untuk merasakan kehidupan dalam tahun-tahun yang dijalani
Kita telah berhasil pergi ke bulan dan kembali,tapi punya masalah untuk pergi ke depan rumah untuk menemui tetangga. Punya penghasilan yang lebih tinggi, tapi moralitas yang semakin rendah
Kita belajar membersihkan udara kita,tapi mengotori jiwa kita. Kita belajar untuk memisahkan atom-atom,tapi tak sanggup memisahkan prasangka-prasangka buruk kita.
Kita memiliki kuantitas yang berlimpah ruah,tapi kualitas yang semakin langka.
Ini adalah waktu di mana ada orang semakin tinggi posturnya, tapi makin pendek karakternya
Profit yang membumbung tinggi, tapi hubungan yang semakin dangkal.
Ini adalah masa kedamaian dunia, tapi perang dalam keluarga. Makin banyak hiburan,Tapi makin sedikit rasa kebahagiaan.
Makin banyak makanan, tapi makin berkurang nutrisinya
Ini adalah saat di mana keluarga dengan penghasilan ganda, tapi perceraian di mana-mana. Makin banyak rumah yang indah,tapi makin banyak rumah tangga yang pecah.
(Anonim) Dikutip dari buku Emotional Quality Management, oleh Anthony Dio Martin