Ketika Rating Menjadi Penentu


“Mas, jangan lupa kasih bintang lima ya!,” ujar pengemudi ojek online selang saya turun dari sepeda motor.

“Okay Pak,” jawab saya singkat dan tersenyum.

Kejadian yang sama sangat sering saya dapatkan setelah selesai menggunakan taxi online, ojek online, aplikasi berbelanja online dan sebagian besar perusahaan online (digital startup company). Saya yakin Anda pun juga sama mungkin sudah pernah atau bahkan sering mendengar ucapan tersebut.

Rating Sebagai Kunci

Rating yang divisualkan dalam bentuk lima bintang dan berwarna kuning di era digital ini menjadi kunci utama sebuah produk laku atau tidak. Bintang tersebut menjadi acuan utama keputusan konsumen apakah melanjutkan bertransaksi atau tidak sama sekali. Dulu, sebelum digital berkembang pesat, iklan berperan besar dalam mempersuasi konsumen terhadap satu produk. Selain itu, rekomendasi keluarga, teman dan orang terdekat juga berperan penting dalam keputusan.

Rekomendasi secara offline pada dasarnya menjadi naluri utama manusia sebagai alert warning. Di alam bawah sadar, tak ada satu pun manusia ingin dirugikan oleh siapa pun. Spesifik dalam bertransaksi barang atau jasa, apa pun cara akan ditempuh oleh manusia agar ia tidak dirugikan. Makanya wajar, saat kita ingin membeli sebuah barang pasti kita akan bertanya banyak ke orang-orang sekitar atau di dunia internet dengan mencari ulasan dari orang yang dipercaya.

Di era serba digital dan serba aplikasi, rating atau bintang akan selalu  menjadi patokan bagi konsumen. Konsumen akan begitu gampang berpindah dari satu toko ke toko lain, penyedia jasa satu ke penyedia jasa lain hingga rating yang diinginkan pun tercapai, yakni rating 5 atau excellent.

Rating Bersifat Pribadi

Dengan adanya rating, secara tidak langsung konsumen langsung berhadapan secara face to face dengan pemberi layanan atau produk. Tidak ada lagi kesan penjual lebih memilki berkuasa atau sebaliknya. Dalam konsep ojek online misalkan, rating pengemudi adalah gambaran secara umum bagaimana respon dari konsumen yang menggunakan jasa mereka. Walaupun di balik itu sebuah sistem aplikasi besar ada dibelakangnya. Namun, konsumen atau penumpang tidak mau tahu itu. Ratin g yang mereka berikan teruntuk pada personal yang sudah memberikan layanan.

Selain rating, ulasan yang diberikan pun semakin bersifat pribadi. Secara emosional konsumen yang puas akan memberikan ulasan positif dan besar kemungkinan akan merekomendasikan.  Sedangkan bagi penyedia layanan ini merupakan apresiasi atau feedback langsung dari konsumen akan layanan yang sudah diberikan.

Rating Kunci Keberhasilan

Rating yang bagus menjadi kunci keberhasilan bagi penyedia layanan. Di dalam marketplace atau kondisi yang ramai di pasar digital menuntut sebuah hukum traffic. Semakin bagus sebuah rating, semakin banyak traffic atau kunjungan ke penyedia layanan, dan secara langsung akan menjadikan penyedia layanan sebagai top pencarian.

Begitu juga layanan yang bersifat partner seperti ojek atau taksi online, masing-masing pengemudi dengan rating terbagus akan mendapatkan prioritas dalam menerima pesanan konsumen. Buruknya, bagi penyedia layanan berating rendah, maka sulit untuk mendapatkan konsumen. Lebih buruknya ada yang harus berhenti dan tidak bisa melanjutkan dalam memberikan layanan.

Rating Bagian dari Big Data

Tak bisa kita pungkiri bahwa semua proses rating adalah bagian dari sebuah big data. Jutaan data berseliweran yang siap memberikan informasi, tentunya bagi perusahaan digital penyedia layanan. Salah satu hasil dari informasi tersebut dijadikan dasar untuk menggolongkan konsumen dan partner ke beberapa segment berdasarkan  tingkat transaksi. Misalkan di perusahaan taksi online asal negeri seberang menggolongkan konsumen menjadi basic, silver, gold dan platinum.

Kajian terkait pengelolaan big data ini butuh pembahasan khusus karena sangat menarik. Secara singkat kita bisa melihat hasi dari pengelolaan big data tersebut yakni penggolongan konsumen beserta benefit yang didapatkan.

Di masa mendatang, dengan penggunaan big data yang semakin luas maka value setiap konsumen pun akan berbeda-beda. Bisa jadi dengan adanya prioritas konsumen, maka sebuah keniscayaan bagi konsumen untuk dilayani secara berbeda-beda.

Keterbukaan informasi, rating, dan big data juga bisa menjadi ancaman bagi konsumen untuk tidak dilayani pada kondisi tertentu. Misalkan saja, bagi konsumen yang sering meng-cancel pemesanan ojek atau taksi online besar kemungkinan menjadi catatan negatif di penyedia layanan. Pada akhirnya, rating menjadi penentu untuk melihat performance penyedia layanan atau konsumen. Masing-masing pihak akan bisa menilai dan memutuskan apakah akan melanjutkan transaksi atau tidak.

source gambar: https://www.icotokennews.com/icoratings/

Tinggalkan komentar