(Sebuah Refleksi)
Satu aktivitas menjelang akhir tahun dan bersiap menyambut tahun baru, biasanya divisi tempat saya bekerja rutin mengadakan syukuran bersama.
Syukuran ini sebagai bentuk ungkapan terima kasih kepada semua tim yang telah bekerja sebaik mungkin karena sudah mencapai target yang sudah ditetapkan. Selain itu, juga sebagai tanda menyongsong tahun baru yang lebih baik.
Salah satu agenda syukuran yang paling ditunggu adalah saling tukar kado. Masing-masing orang membawa kado tanpa diberi identitas agar penerima tidak bisa mengetahui kado tersebut milik siapa. Agar kado yang diberikan layak, maka diberilah batasan minimum terhadap value harga dari kado, yakni minimum barang / kado bernilai Rp 50.000.
Sehari sebelum acaranya, masing-masing orang biasanya bingung mau beli kado apa. Ada yang menitip ke teman dengan membeli barang apa pun, yang penting tidak di bawah harga yang sudah ditentukan. “Terserah lu deh mau belikan apa,” ujar salah seorang teman.
“Pokoknya yang punya gue gak lebih dari Rp 60.000 ya,” ujar temen yang lain menambahkan.
Kisah singkat ini saya selesaikan di sini saat saya tercenung dan merefleksikan apa yang terjadi, yaitu give atau memberi. Ternyata tidak mudah ya untuk memberi yang terbaik, bahkan satu kali dalam setahun ke sahabat dan rekan-rekan sepekerjaan. Rasa untuk berbagi dan memberikan yang terbaik kepada orang lain bukanlah hal sepele. Namun, sadar atau tidak itu semua menggambarkan diri kita sebenarnya.
Dalam perenungan singkat ini saya melihat ada peluang besar bagi diri kita untuk merubah sudut pandang dalam memberikan yang terbaik buat siapa pun. Salah satu peluang besar yang bisa saya sampaikan adalah memposisikan diri kita sebagai subjek dan objek dalam satu waktu.
Persis seperti cerita bertukar kado. Ketika kita asal/tidak serius dalam memberikan kado, coba posisikan diri kita sebagai penerima. Apakah ketika menerima kado yang diberikan dengan asal-asalan saya akan senang? Pertanyaan yang memposisikan subjek dan objek bersamaan inilah yang akhirnya membawa kita menjadi pribadi selektif dan selalu memberikan yang terbaik.
Sikap tersebut akan menjadi habit, karakter, dan terinternalisasi ke banyak orang. Jika kondisi ini semakin meluas, maka kita bayangkan bagaimana kita menjadi pribadi dan bangsa yang maju dalam kebersamaan. Pribadi yang bahagia dan lebih luas masyarakat yang saling mendukung satu sama lain. Dan pada akhirnya bisa terwujud bangsa dan negara yang paripurna.
Semoga kita selalu terus memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.
November 2018