Rasa Takut, Kenapa Ada?

Dunia layar lebar bersuka cita dengan hadirnya teror Pennywise (badut super seram) dalam kehidupan anak-anak di kota Derry, Maine; sebuah kota fiksi hasil imajinasi luar biasa penulis horor; Stephen Edwin King di Film IT (2017). Film 27 tahun silam ini sukses dihadirkan kembali dengan visualisasi maksimal oleh Andy Muschietti, film director dan screenwriter asal Argentina.

Cerita ini bermula ketika satu persatu anak-anak di kota Maine hilang dengan meninggalkan bercak darah. Suasana kota yang dipenuhi teror dan ketidakmampuan pihak keamanan memecahkan teka-teki ini akhirnya mendorong sekelompok anak-anak yang tergabung dalam Geng Pencundang untuk menyelidikinya.

Dalam proses penyelidikan itulah korban terus berjatuhan di tangan Pennywise. Karena ketakutan ini pun Geng Pecundang hampir terbelah, masing-masing ingin menyelamatkan diri. Beruntungnya geng ini memiliki pemimpin yang bertekad kuat; Bill Denbrough. Persatuan selalu dikuatkan terutama saat berhadapan langsung dengan makhluk astral yang juga memiliki banyak wujud ini.

Singkat cerita geng pecundang ini berhasil mengalahkan si badut dan menyelamatkan Beverly (salah satu anggota geng yang sempat tertangkap) yang sempat melayang dan tak sadarkan diri. Secara keseluruhan, film ini layak untuk Anda tonton, sangat menegangkan dan ada lucunya juga.

Saya ingin membahasnya dari perspektif pengembangan pribadi (personal development). Seperti judul tulisan ini; Rasa Takut, Kenapa Ada?

Film ini memberikan inspirasi dan motivasi bagi kita dalam proses pengembangan pribadi. Kita tahu bahwa semakin beranjak dewasa, manusia cenderung bertambah takut untuk melakukan sesuatu yang pada akhirnya membawa pada kegagalan dan stagnansi. Perlu kita sepakati bahwa rasa takut dalam perspektif pengembangan pribadi ini bukanlah rasa takut pada makhluk atau sesuatu yang horror, namun lebih ke arah rasa takut untuk bertindak mencapai satu tujuan.

Kita ingat, saat kita kecil rasanya kita tidak memiliki rasa takut. Kita mampu berlari ke mana pun, kita memanjat, mencoba sesuatu yang baru seperti belajar bersepeda, berenang atau melakukan hal-hal lain yang belum pernah kita lakukan. Kita tidak berpikir panjang akan akibat yang timbul, satu kata lakukan saja. Beranjak dewasa, keberanian kita semakin berkurang. Begitu banyak pertimbangan, angan-angan akan kecemasan dan ketakutan yang dibayangkan akan terjadi, walaupun pada akhirnya apa yang kita takutkan sebagian besar tidak pernah terjadi.

Pernahkah Anda merasa berhenti di satu titik dan ingin melakukan sesuatu tetapi selalu urung dilakukan? Misalnya mencoba berbisnis? Pastinya selalu ada bayang-bayang kerugian di depan mata. Atau ada kenginan mencoba menjalin hubungan dengan seseorang? Pasti selalu ada bayang-bayang akan ditolak oleh orang yang kita inginkan. Masih banyak lagi, ketakutan-ketakutan lain yang muncul ke dalam kehidupan kita.

Sekarang kita bisa bertanya, kenapa rasa takut itu ada? Tidak bisa kita pungkiri secara fitrah manusia rasa takut itu sudah diciptakan oleh Allah SWT dengan tujuan untuk menguji manusia. Untuk mengetahui siapa saja yang bersungguh-sungguh memiliki keyakinan, mau menjalankan, dan bersabar dalam setiap langkah kehidupannya.

Bisa saja, rasa takut dalam kehidupan ini merupakan ujian naik kelas bagi kita semua. Mereka yang tidak menaklukkan rasa takut adalah mereka yang tidak pernah mencoba sesuatu. Mereka yang berada di zona nyaman atau mereka yang tidak peduli akan sesamanya. Lihat saja, bagaimana penduduk dewasa kota Maine cuek terhadap kejadian yang ada, petugas kepolisian yang tidak mampu memecahkan teror si Pennywise. Tapi tidak dengan Geng Pecundang, tindakannya jauh melebih nama yang mereka sematkan untuk geng mereka ini.

Oleh karenanya, perlu bagi kita untuk tidak terhanyut pada rasa takut. Bukan rasa takutnya yang perlu kita cemaskan, tetapi sikap kita pada rasa takutlah yang perlu kita sikapi dengan seksama demi terwujudnya kesuksesan dalam hidup ini.

Foto Ilustrasi di sini

 

 

Tinggalkan komentar