Perempuan Keranjang

 

Keranjang itu naik turun dimainkan tangan mungil seorang perempuan. Bentuknya bundar dengan seluruh bagiannya bolong kecil, bagaikan penyaring. Deru sepeda motor semakin kuat seiring lalu lalangnya pengemudi menuju tempat tujuan.

Sudah setengah jam lebih keranjang merah itu kosong. Belum satu pun pengendara yang lewat mengulurkan uang. Keranjang itu seperti tak habis semangatnya, terus naik dan turun oleh pergelangan tangan mungil perempuan kampung Dempet di satu daerah di Jakarta.

Sesekali perempuan mungil itu menyeka keringat di dahi. Debu kendaraan bermotor tak ia hiraukan lagi, semuanya hanyut dalam pemikiran berapa uang receh yang bisa ia kumpulkan hari ini. Hari-hari sebelumnya ia dapat lumayan, cukup untuk makan pagi dan makan siang, minimal dengan telor dadar dan sayur kacang di warteg kampung Dempet.

Kampung Dempet merupakan satu kampung yang menghubungkan dua daerah yang sebenarnya tidak dilalui jalan raya. Warga kampung menyepakati untuk membobol tembok perbatasan dengan kampung sebelah agar didapat jalan pintas yang bisa digunakan oleh pengguna sepeda motor. Jalannya memang tidak bagus, masih berbatu dan banjir di musim hujan. Akan tetapi, banyak pengemudi sepeda motor bersyukur dengan jalan pintas kampung Dempet ini. Para pengemudi dapat menghemat waktu dan mengindari kemacetan lalu lintas di jalur utama.

Jebolan tembok yang menjadi jalan umum inilah yang dimanfaatkan perempuan mungil dan belia itu untuk mendulang pundi-pundi uang. Ia rela menghabiskan paginya menjelang siang untuk mendapatkan uang. Dapatnya mungkin tak banyak, walaupun ia sudah mengorbankan waktu untuk sekolah. Baginya bersekolah seperti anak lainnya itu mustahil, orang tuanya pun berharap anaknya sudah bisa menghasilkan uang dari keranjang kecil itu.

Banyak yang menyayangkan apa yang dilakukan belia itu. Namun, semua itu hilang berlalu ditelan waktu penuh ketergesa-gesaan. Para pekerja yang setiap hari terburu-buru dalam kemacetan lalu lintas, berharap tepat waktu sampai di tempat kerja. Para warga kampung Dempet yang setiap hari bertahan dengan kehidupan tanpa arah. Bertahan hidup dan bisa makan setiap hari sudah cukup.

Terselip hari penuh kegelisahan melihat apa yang dialami dan dilihat. Ingin berbuat banyak tapi apa daya kemampuan itu seolah tidak ada. Semuanya kembali tenggalam dalam rutinitas.

Keranjang kecil perempuan itu dan kesibukan di pagi hari menjadi cermin kehidupan yang perlu kita lihat lagi. Pemandangan ini hadir untuk memberitahu kita bahwa setiap kehidupan memiliki jalannya masing-masing. Pada jalan masing-masing itulah tersimpan perjalanan orang lain yang perlu kita cermati, kita bantu, dan kita ambil pelajaran dalam rasa syukur mendalam. Karena disanalah semua kebahagian itu bermuara.

Sumber Ilustrasi

Tinggalkan komentar