Minimal satu kali seminggu saya membeli bubur ayam di lantai dasar apartemen tempat saya tinggal. Secara lokasi, bubur ayam ini tidak strategis. Berada di bagian dalam, sulit untuk ditemui dengan mudah.
Setiap kali saya mengunjungi penjual bubur ayam ini, selalu ada beberapa pelanggan yang makan di tempat. Ada hal menarik dari penjual bubur ayam ini, padahal saya baru membeli dua kali.
Pembelian pertama. Saya memesan satu bungkus bubur ayam, lengkap dengan kacang, daun seledri dan keripik emping. Setelah saya bayar tiba-tiba sang penjual berkata, “Jika ada yang kurang protes aja ya Mas,” ujarnya.
“Oke siap Mas,” jawab saya.
Selang beberapa hari saya pun kembali membeli bubur ayam ini. Kali ini dua bungkus.
“Mas sekalian sama sate,” tawarnya.
“Engga dulu Mas.”
Setelah pesenan bubur ayam selesai, saya pun membayar. “Jika ada yang kurang protes aja ya Mas,” ujarnya tersenyum sambil mengembalikan uang.
“Oke siap Mas,” lagi-lagi saya menjawab oke dan saya terus berfikir sembari meninggalkan gerobak bubur ayamnya.
Sepanjang perjalanan, saya berfikir bahwa apa yang dilakukan penjual ini menarik sekali. Dia selalu berkata dan meminta agar konsumennya mau protes jika ada kekurangan pada buburnya.
Secara langsung, saya melihat penjual ini sangat mengutamakan kualitas produk dan kepuasan konsumen. Wajar saja walaupun lokasi penjualan tidak strategis, tapi tetap ramai dikunjung pelanggan.
Dalam customer service, secara tidak langsung penjual bubur ayam ini sudah menerapkan proses penjualan yang berkelanjutan. Tidak transaksional, tapi sudah masuk ke tahap peduli serta hubungan konsumen jangka panjang
Tidak banyak usaha kecil menengah yang peduli pada konsumennya. Masih banyak kita temukan penjual di usaha kecil menengah yang cuek dan abai pada konsumennya. Sehingga banyak usaha yang gagal,ditinggal konsumen dan dihantam pesaing yang lebih mengutamakan konsumen.
Penjual bubur ayam tadi dalam hal kepuasaan konsumen patut kita jadikan contoh. Besarnya kontribusi usaha kecil menengah terhadap perekonomian Indonesia juga harus didukung pada semakin terpuaskannya konsumen. Perlu kita ingat di era kompetitif ini perubahan sangat cepat terjadi dan persaingan begitu ketat. Salah satu cara untuk tetap memenangkan persaingan adalah mengutamakan kepuasan konsumennya.
Jakarta, 31 Oktober 2016
Foto Ilustrasi: Source