Aktivitas nongkrong jadi sesuatu hal yang biasa bagi siapa pun dewasa ini. Tempatnya bervariasi, ada yang di warung kopi, cafe, restoran, tempat keramaian, pinggiran jalan, dan banyak lagi.
Biasanya, aktivitas ini dilakukan untuk merawat hubungan persaudaraan dan pertemanan di antara kita. Namun, bagi beberapa anak muda, aktivitas ini bisa menjadi aktivitas yang sangat mengasikkan karena di sini bisa ‘cuci mata’. Melihat pemandangan yang terkadang mengundang gelak tawa dan perbincangan yang mengasikkan.
“Eh lihat arah jam tiga!,” ujar seorang teman untuk memberitahukan ada sosok perempuan muda dan cantik lewat. “Eh… sekarang arah jam enam,” lanjutnya. Bagi Anda yang sering bercanda dengan sesama teman, dipastikan mengetahui aktivitas ini bukan? #hayoongaku
Kali ini saya tak akan membahas dan menguliti lebih dalam tentang aktivitas nongkrong dan melihat ‘jam’ seperti di atas. Saya akan melihat bahwa ada pelajaran yang sebenarnya bisa kita petik untuk kehidupan kita yang lebih baik kedepannya.
Hidup ini kita ibaratkan sebagai aktivitas kongkow. Kita duduk, menikmati hidangan, dan bercanda sambil bertukar pikiran. Namun, sering kali saat kita duduk pandangan kita terkadang mentok ke satu pandangan saja. Ada yang menghadap tembok, jalanan, punggung pengunjung lain, arah pintu toilet dan sebagainya. Agar tidak membosankan, kita perlu teman atau sahabat yang menunjukkan pemandangan lain dalam hidup ini.Jika pandangan kita sering mentok, seringkali rasa putus asa cepat merasuki diri.
Oleh karenanya, kita membutuhkan orang-orang disekeliling kita yang mampu menunjukkan arah-arah jarum jam lain yang segar dan mencerahkan. Persis seperti kita menjalani hidup ini. Kita sangat memerlukan orang-orang yang memberikan petunjuk-petunjuk baru dalam hidup kita agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Orang-orang yang memberikan pandangan baru dalam hidup kita bisa kita temukan dari mentor, guru, karya-karya orang hebat, sahabat, kolega bisnis, dan pastinya keluarga. Merekalah yang mampu memberikan arah-arah baru yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan.
Untuk itu, perlu lah bagi kita untuk memperbanyak peluang bertemu dengan mereka yang bisa mengarahkan kita ke arah-arah baru. Seringlah ikut seminar, kelas-kelas bisnis, grup-grup diskusi, jika mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tanpa itu semua, kita akan sulit untuk melihat pandangan lain, alias selalu mentok. Selamat menemukan arah-arah baru Anda.
Jakarta, 30 Oktober 2016