Jaminan

Seperti biasa, setiap pagi sebelum berangkat ke tempat kerja saya menyempatkan diri untuk membeli sarapan. Terkadang saya membeli sarapan bubur ayam, lontong sayur, gado-gado, bubur kacang hijau, dan kali ini saya membeli nasi uduk. Ada hal menarik kali ini saat saya selesai membayar pesanan. Terdengar penjual nasi uduk berbincang dengan temannya sesama penjual sarapan pagi akan prestasi Indonesia di Olimpiade Rio, Brazil 2016.

“Enak ya pemain bulutangkis dapat jaminan hari tua,” ujarnya.

“Iya ya….” jawab temannya.

Sambil tersenyum saya mengeloyor meninggal penjual nasi uduk. Sepanjang jalan menuju ke kantor, celetukan penjual nasi uduk terus terngiang-ngiang dan membayangi pikiran saya. Dua kata: Enak dan Jaminan

Seperti kita ketahui dan sepatutnya kita bersyukur bahwa pemerintah Indonesia sangat mengparesiasi pahlawan Indonesia di bidang olahraga. Atlet yang berhasil memeroleh medali emas akan mendapatkan bonus masing-masing 5 miliar rupiah dan uang jaminan bulanan sebesar dua puluh juta rupiah setiap bulannya seumur hidup. Melihat apa yang didapatkan oleh atlet ini, dua kata tadi akan muncul kembali, enak dan adanya jaminan.

Dalam dunia serba kompetitif dan tidak stabil, kita tak bisa pungkiri banyak individu dan atau diri kita sendiri menginginkan kehidupan yang enak dan penuh jaminan. Bekerja sebagai pegawai, enak dan ada jaminan hari tua berupa pensiun, terlebih adanya jaminan kesehatan. Enak? Ya enak. Bahkan banyak orang yang rela membayar besar dimuka (suap) untuk masuk ke dalam sistem yang enak dan penuh jaminan entah dimana pun itu

Berbicara soal kata jaminan, tidaklah mudah semudah kita mengucapkan dan membayangkan. Sebagai individu, apapun jaminan yang ingin kita dapatkan di kemudian hari harus kita persiapkan dari saat ini. Kita harus mengonversi setiap waktu dan tenaga yang kita miliki saat ini agar bernilai tinggi, dan akhirnya itu menjadi jaminan di masa mendatang.

Lihatlah peraih emas bulu tangkis, Liliyana Natsir mengatakan, untuk mendapatkan medali emas tidaklah mudah. “Butuh perjuangan yang luar biasa berat lahir dan batin,” tulisnya di akun Instagram.

Apa yang diraihnya memberikan arti bahwa disana ada proses, ada disiplin, dan ada pengorbanan yang sudah dibayarkan demi bisa mendapatkan apa yang disebut prestasi. Namun, kebanyakan orang melihat hanya pada pencapaian. Banyak yang enggan untuk melihat ada proses apa dibalik semua itu, terlebih-lebih untuk mau melakukan aksi perubahan.

Kembali pada perbincangan penjual nasi uduk di pagi hari tadi dan mari kita refleksikan ke diri kita sendiri. Pertanyaannya apakah kita akan selamanya menjadi orang yang selalu bercerita dan kagum akan prestasi orang-orang hebat.  Sedangkan kita sendiri tidak mau untuk melihat proses dibalik kesuksesan tersebut dan menyedihkannya kita tidak mau melakukan aksi nyata dalam mencapainya? Semoga ini menjadi sarapan rohani yang enak untuk kita di setiap pagi. Demi tercapainya banyaknya impian-impian akan jaminan di masa depan. Semoga kita selalu dikuatkan.

Tinggalkan komentar