Cinta bisa memiliki banyak definisi tergantung dalam konteks apa kita bicara. Cinta bisa didefinisikan sebagai ungkapan mendalam akan rasa memiliki dan menjaga terhadap sesuatu. Ada yang cinta harta, cinta jabatan, cinta kepada kekasih, cinta kepada orang tua, cinta alam, dan masih banyak cinta-cinta yang lain. Namun, dalam era yang semakin mengedepankan individualisme dan egoisme ini seberapa sering kita melihat cinta dalam kesederhanaan? Sehingga dua hal itu tidak ada, semoga kita selalu menemukannya.
Dalam tulisan kedua ini, aku ingin berbagi bagaimana cinta menjadi kekuatan luar biasa dalam konteks memiliki dan menjaga, yaitu cinta dalam kesederhanaan suku Baduy.
Matahari terus menanjak naik, hampir tepat diubun-ubun kami. Panas terik dan sesekali hembusan angin siang hari menemani langkah kami yang semakin gontai. Sudah tiga jam lebih kami menapaki jalan-jalan bebatuan, melintasi jembatan bambu dan dua desa suku Baduy luar. Kulihat isi botol air minum yang kubawa tinggal setengah. Berharap ini masih cukup hingga sampai di tempat tujuan. Baca juga Baduy Wisata Mencari Kesederhanaan
Sejak melewati perbatasan antara Baduy luar dan Baduy dalam kami lebih fokus pada langkah kami. Sebelumnya kami disibukkan untuk mengabadikan keindahan alam, budaya dan masyarakat Baduy luar melalui kamera saku dan kamera ponsel, sekarang hal itu tabu dan dilarang di wilayah Baduy dalam. Tentunya sebagai pengunjung beradab kami harus mematuhi itu semua.
“Sebentar lagi kita akan sampai di desa. Istirahatnya jangan terlalu banyak, sekalian aja nanti di rumah,” ujar Pak Yuli memotivasi kami. Di wajah memang tak terlihat raut kelelahan, sebulir keringat pun tidak terlihat.
Beberapa saat lalu, setelah wilayah perbatasan kami menyempatkan diri mampir ke ladang Pak Yuli. Di ladangnya terdapat pondok untuk dia bernuang. Pondoknya cukup besar, terbuat dari kayu, bambu dan beratap rumbia. Bentuknya seperti rumah panggung yang bagian bawahnya tersusun rapi kayu-kayu untuk bahan bakar memasak. Di sekitar pondoknya berkeliaran beberapa ayam kampung dan berbaur bersama kami yang sedang beristirahat sambil mencari makanan.
Semangkuk gula aren tersedia di samping teko air berwarna coklat berbahan kaca. “Silahkan di makan dulu gula arennya,” ujarnya memecah keheningan. “Ini ada markisa, segar,” ulurnya.
Buah markisa yang disodorkan tadi adalah satu dari sekian banyak hasil berladangnya. Rasanya asem tapi seger. Beberapa temanku tak sanggup menikmatinya, akhirnya ditambahkan gula aren untuk memaniskan rasa. Sambil beristirahat, kami pun dibantu Pak Yuli untuk mengisi ulang botol-botol minum yang kosong.
“Jika sudah siap, mari kita jalan lagi biar segera makan di desa,” ingat Pak Yuli kepada kami. Kami pun lantas menerima seruannya, bangkit dan berjalan lagi menuju tujuan yang sedang menunggu kedatangan kami.
Langkah kaki kembali kami pijakkan seiring tangan yang sesekali memperbaiki posisi tas dipunggung, seirama nafas yang berderu lebih cepat. Medan yang kami lalui terbilang sama dengan apa yang sudah kami lalui di medan sebekumnya. Dari kejauhan beberapa petak huma sudah dibersihkan, sisa kayu terbakar menghitam berdebu dan ditiup angin. Punggung bebukitan memantulkan panas terik. Kami terus berjalan dan tentunya sedikit berbicara.
Bersambung…
