21, Hutang Masih Utuh

image

Kegelisahan terus mendera diri. Tahun 2016 terus menunaikan kewajibannya mencicil hari demi hari, tidak seperti aku yang diam tak berkutik. Tak kunjung melaksanakan kewajiban. Mau jadi apa?

Di akhir tahun lalu aku pernah berjanji pada diri sendiri untuk kembali ke jalan ‘kebenaran’. Kebenaran panggilan hati dimana di sana tersimpan sebongkah kebahagian dalam kepuasan diri, menulis.

Begitu banyak motivasi eksternal yang telah memanggilku disertai dorongan internal yang seolah melecutku untuk kembali pada kebenaran. Namun itu tak kunjung membuatku bangkit dalam kegemingan ini. Panggilan itu seolah hilang tak berbekas, datang dan menghilang kembali begitu cepat.

Hari ini 21 hutang menulisku mulai menumpuk. Menumpuk dalam timbunan hari demi hari dalam kewajiban untuk menulis minimal satu tulisan setiap harinya. Di hari ke 21 ini, aku paksakan diri untuk menulis, memainkan jari ini di atas tuts keyboard netbookku. Berharap ini menjadi pencicil hutangku, satu dulu.

Pemantiknya sederhana. Sebuah film berjudul Memento. Si tokoh utama yang bermasalah dengan ingatan jangka pendek karena gangguan otak dikarenkan benturan di kepalanya. Si tokoh harus mencatat setiap detil aktivitas dan kejadian dalam hidupnya hari demi hari. Menyusun kembali catatannya sebagai sejarah kehidupan untuk menemukan pembunuh isterinya tercinta.

Film ini membuatku merenung dan memanggilku, aku harus menulis. Karena ini adalah cara untuk mendokumentasikan setiap waktu yang telah aku lalui; sebagai bukti tertulis bagi sejarah dan kehidupan mendatang bahwa aku pernah ada di dunia ini.

Lunasi Hutang Menulismu

Janji adalah hutang. Hutang terberat adalah hutang pada diri sendiri karena di sini aku pelaku hutang dan aku  juga penagih hutang. Dua dalam satu.

Hal terberat yang harus dilalui adalah motivasi diri yang mudah redup, termakan dalam rutinitas pekerjaan yang tak kunjung selesai. Setelah ini baru tantangan lain. Tapi apakah aku bertekuk lutut pada semua itu? Pecundang sekali! Akan kulunasi hutangku dan aku akan menabung dan membuat deposito ‘kebenaran’ yang aku yakini. Sebongkah kebahagian! Aku janji.

Dunia menulis telah jauh aku tinggalkan. Sekarang saatnya aku harus menjemput kembali dunia ini. Menggenggamnya erat-erat, mendekapnya dan menyimpannya dalam diri hingga bersatu bersamaku. Berharap ini adalah sahabat terbaikku dalam melalui waktu demi waktu kedepannya. Semoga Allah SWT merestui dan memberkahi niatku ini. Dengan menyebut nama-Nya aku kembali. Selamat datang dan selamat kembali pada nuranimu.

Tinggalkan komentar