Aktivitas pelesiran semakin tak terpisahkan dari gaya hidup modern masyarakat muda Indonesia saat ini. Banyaknya open trip dengan harga terjangkau, murahnya tiket moda transportasi, dan mudahnya berkomunikasi serta berbagi informasi melalui media sosial menjadi pemacu orang untuk semakin sering berplesiran.
Jika Anda punya banyak waktu dan uang bisa memilih liburan ke luar negeri; Eropa, Asia, Australia atau Amerika. Namun, jika waktu dan uang Anda terbatas bisa memilih untuk menikmati alam Indonesia yang indah dan masih sangat luas untuk dikunjungi, tentunya tidak kalah menariknya dengan di luar negeri. Seperti aku yang kali ini memilih pilihan kedua karena cinta Indonesia, #ngelesdikit padahal serba terbatas, hehe. Yuk ah mari simak kisahku dari sudut selatan Pulau Jawa; Suku Baduy: Kesederhaaan dalam Cinta.
Menjelang HUT RI ke-70, ada long weekend yang bagiku harus dimanfaatkan dengan aktvitas baru dan menarik. Biasanya jika ada waktu libur beberapa hari aku akan berpelesiran ke tempat-tempat baru, seperti beberapa waktu lalu aku mengunjungi Gunung Anak Krakatau, Pulau Peucang Ujung Kulon, Kepulauan Seribu, Gunung Gede, Gunung Papandayan, atau menghabiskan waktu di toko buku, menonton film, dan keliling mall.
Gayung bersambut di akhir pekan 15-17 Agustus 2015 ketika ada ajakan dari penguasa garam Madura, a.k.a Hendriawan Iswidodo untuk berwisata alam ke Baduy. Terdengar menarik dan sesuai dengan rencanaku beberapa waktu lalu untuk berkunjung ke sana. Wisata kali ini diinisiatori oleh Pak Nyo dan keluarga, Bu Jenny dan keluarga dan Pak Didik. Ikut juga Yeni, Syarief, Tiara dan Izka.
Dengan persiapan singkat, Jumat 14/7 malam, kami siap menuju Desa Ciboleger; titik kumpul terakhir sebelum berjalan kaki menuju Desa Baduy Dalam. Kami berangkat sekitar pukul 22.00 WIB dari Jakarta menembus jalanan yang padat merayap melalui tol Jakarta-Tangerang menuju Serang dan Kebupaten Lebak. Perjalanan menuju Desa Cibolegar menghabiskan waktu sekitar 7 jam perjalanan. Itu sudah termasuk waktu istirahat, macet di jalanan dan waktu nyasar. Normalnya seharusnya 4-5 jam perjalanan dari Jakarta. Bagi Anda yang menggunakan transportasi umum bisa menyesuaikannya dengan jadwal kereta api atau bus elf.
Subuh syahdu di Ciboleger
Pandangan terbatas tertutup kabut putih yang semakin tebal. Udara dingin menyeruak memasuki kabin mobil yang sesekali terguncang karena melewati medan jalan rusak. Kantuk menyerang dalam kesunyian. Jalanan lengang, sesekali deru motor pengangkut barang dagangan mendahului mobil kami.
Menjelang pukul 05.00 wib kami pun sampai di desa Ciboleger, batas terakhir kendaraan bermotor. Suasana sunyi, beberapa warung kopi masih terbuka menyambut pengunjung yang akan beristirahat sejenak dan menikmati sarapan pagi. Di sini ada juga loh A**a mart, jadi Anda bisa membeli kebutuhan logistik di sini. Tak jauh dari tempat parkir terdapat mesjid yang bisa Anda gunakan untuk menikmati salat subuh dalam keheningan.
Saatnya Tracking
Usai salat subuh, kami pun mulai bersiap, mendistribusikan barang bawaan agar merata, melatih kaki agar siap berjalan melintasi hutan bebukitan, dan tentunya sarapan pagi; roti dan segelas teh hangat. Sebelum berangkat, kami pun sudah ditunggu oleh seorang warga Baduy. Kulitnya putih dan bersih, berbaju putih, sarung hitam dengan bahan dirajut dan tanpa alas kaki. Sebilah parang di pinggang kirinya dan kain putih penutup kepalanya yang menandakan ia adalah warga Baduy dalam.
“Yuli,” ujarnya tersenyum memperkenalkan diri sambil bersalaman. Jabat tangannya hangat dan di sana terasa semangat persahabatan diiringi senyum yang merekah di wajahnya yang bersih.
“Silahkan untuk sarapan dulu,” ujarnya dengan bahasa Indonesia yang fasih.
Sembari kami menikmati sarapan, ia dengan cekatan mempersiapkan beberapa barang kami yang akan dibawa olehnya. Sebilah kayu panjang, segulung tali dan parang ia gunakan untuk mempermudah ia membawa barang. Di samping membawa barang pribadi, kami pun membawa logistik lebih untuk dibagi ke masyarakat baduy seperti mie instan, sardene, ikan asin, beras, saus cabe, kecap dan lainnya.
Sarapan selesai, saatnya tracking. Kami berjalan rapi mengikuti jalur jalan bebatuan yang disusun rapi, mengatur irama nafas, mengusap cucuran peluh dan fokus pada setiap langkah yang kami pijakkan. Sinar hangat matahari pagi juga menambah kecerian dan tenaga kami. Tujuan kami adalah Desa Cibeo, Baduy Dalam.
Sepanjang jalan kami sering berpapasan dengan orang-orang Baduy. Ada yang berjalan sendiri dan ada pula yang berjalan beriringan bersama-sama. Orang-orang Baduy ramah, menjawab sapaan yang kami lontarkan. Beberapa ada juga yang berjalan menunduk, terutama perempuan.
Perjalanan ke desa Cibeo cukup melelahkan. Semula kami berfikir medan yang akan dilalui cukup mudah, tapi diluar dugaan medan yang ditempuh cukup menantang. Tanjakan dan turunan yang curam, jembatan bambu yang bergoyang, dan puncak bebukitan yang panas kerontang. Ya tak ubahnya seperti mendaki gunung.
Desa Cibeo ini adalah satu dari tiga desa suku Baduy dalam. Dua desa lainnya adalah desa Cikadu dan Cikartawana. Tiga desa ini adalah desa Baduy dalam yang mana masyarakatnya mempertahankan tradisi adat.
“Kami engga boleh menggunakan sendal ke mana pun pergi, tidak boleh menggunakan listrik, kami tidak mau di foto kecuali di luar daerah baduy dalam,” ujar Pulung, pria 18 tahun yang membantu kami mengangkut barang saat di tengah jalan.
“Orang baduy dalam tidak boleh menggunakan sabun ketika mandi, menolak untuk bersekolah dan kesehariannya diisi dengan kegiatan berladang,” jelas pria sulung dari enam bersaudara ini.
Pulung pun bercerita lebih jauh tentang desa Cibeo. Di desanya terdapat 100 lebih kepala keluarga. Dengan rata-rata usia pernikahan 16 tahun untuk wanita dan 20 tahun untuk pria. Pria yang sudah menikah harus mampu mandiri dalam menghidupi keluarganya.
Di sepanjang jalan terlihat sisi bukit yang sudah siap untuk ditanami padi dan tanaman palawijah lainnya. Beberapa pondok kokoh berdiri di tengah-tengah huma. Sisa-sisa kayu yang terbakar menghitam, berdebu dihembus angin. Suara bambu berdesing ditiup angin, menjadi melodi alam bersautan.
Sesekali kami berhenti. Menatap tanjakan di depan mata. Selang berjalan satu jam lebih kami pun sampai di desa Baduy luar, desa Kaduketuk. Rumah beratap rumbia berdindingkan bambu berjejeran, jalanan batu tersusun rapi dan beberapa orang perempuan terlihat mengadu-ngadu alat dari kayu merajut benang, menenun. Desa ini sudah terbuka untuk menerima kemajuan. Mereka sudah menggunakan pakaian baju dan celana, memiliki handphone, berjualan layaknya warung dan sudah menggunakan alas kaki. Ciri khas mereka menggunakan tutup kepala berwarna biru.
“Hebat ya mereka bisa menyusun batu sedemikian rapi untuk jalan, butuh waktu berapa lama itu, “ujar Pak Didik. “Bisa jadi ini adalah bebatuan dari ledakan gunung Krakatau dulu,” tambah guru komputer dan blogger otomotif ini.
Perjalanan kami lanjutkan, matahari semakin tinggi dan langkah kaki semakin lelah. Tapi kami harus tetap berjalan agar sampai di desa Cibeo tidak terlalu sore. Kami pun melewati desa Gajeboh yang hampir sama dengan desa baduy luar sebelumnya.
“Sebentar lagi kita sampai di perbatasan. Tinggal satu tanjakan dan satu jembatan lagi,” ujarnya memberi semangat. “Dari perbatasan sekitar 2 jam kita akan sampai di tempat tujuan.”
Kami pun terus berjalan. Sesekali memotret pemandangan alam pinggiran bukit, aktivitas warga, dan rumah-rumah masyarakat baduy. Semuanya terasa begitu tradisional dan alami.
Selang beberapa waktu, kami pun sampai di jembatan bambu yang menjadi perbatasan antara baduy dalam dan baduy luar. “Sok main air dulu sambil istirahat,” ujar Pak Yuli. Air sungai begitu jernih, debit air dangkal mengalir tenang ditengah musim kemarau panjang tahun ini. Kami pun mengusap muka, merendam kaki, dan merasakan kesegaran udara hutan.
“Jika sudah selesai ayo kita jalan lagi,” kata Pak Yuli.
Di sini adalah batas semua alat eletronik kami. Ingat, tidak boleh mengambil foto ! Handphone, kamera, handy talkie semua kami matikan. Aku penasaran, kira-kira ada apa ya di Baduy dalam sehingga mereka tetap mempertahankan hal tabu ini; tidak mau difoto.
Kira-kira ada apa ya? Simak ulasanku berikutnya ya.
Selanjutnya
Suku Baduy: Kesederhanaan dalam Cinta



[…] Matahari terus menanjak naik, hampir tepat diubun-ubun kami. Panas terik dan sesekali hembusan angin siang hari menemani langkah kami yang semakin gontai. Sudah tiga jam lebih kami menapaki jalan-jalan bebatuan, melintasi jembatan bambu dan dua desa suku Baduy luar. Kulihat isi botol air minum yang kubawa tinggal setengah. Berharap ini masih cukup hingga sampai di tempat tujuan. Baca juga Baduy Wisata Mencari Kesederhanaan […]
SukaSuka
[…] Matahari terus menanjak naik, hampir tepat diubun-ubun kami. Panas terik dan sesekali hembusan angin siang hari menemani langkah kami yang semakin gontai. Sudah tiga jam lebih kami menapaki jalan-jalan bebatuan, melintasi jembatan bambu dan dua desa suku Baduy luar. Kulihat isi botol air minum yang kubawa tinggal setengah. Berharap ini masih cukup hingga sampai di tempat tujuan. Baca juga Baduy Wisata Mencari Kesederhanaan […]
SukaSuka